Rabu, 21 Maret 2018



MAKALAH MATA KULIAH KOMUNIKASI POLITIK
( Propaganda  dan Komunikasi Politik & Retorika dalam Komunikasi Politik )



Oleh : Zakaria Efendi

A.    Pendahuluan
    Sama halnya komunikasi lain, komunikasi politik adalah komunikasi yang dilakukan untuk menyampaikan pesan yang di lakukan oleh lomunikator terhadap komunikannya. Namun dalam hal komunikasi politik pengkhususan dalam kontek berkomunikasi membuat komunikasi politik sedikit berbeda dengan komunikasi-komunikasi lainnya.  Perbedaan komunikasi politik dengan komunikasi lain bukan dalam teorinya dimana dalam praktiknya komunikasi dilakukan dengan dua syarat yaitu terdapat komunikator dan komunikannya. Konteks membuat komunikasi politik sedikit berbeda, karena komunikasi politik dilakukan hanya dalam ruang lingkup kegiatan Politik.  Pengertian komunikasi politik secara sederhana adalah komunikasi yang melibatkan pesan - pesan politik dari komunikator kepada komunikan melalui media massa untuk mencapai efek yang diinginkan sehingga memperoleh feed back.
    Dalam praktiknya, komunikasi politik sangat kental dalam kehidupan sahari - hari. Sebab dalam aktifitas sehari - hari tidak satupun manusia tidak berkomunikasi dan kadang - kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi politik. Berbagai penilaian dan analisis orang awam berkomentar soal kenaikan bbm, ini merupakan contoh kekentalan komunikasi politik. Sebab sikap pemerintah menaikkan bbm sudah melalui proses komunikasi politik dengan mendapat persetujuan DPR. Gabriel Almond (1960) menjelaskan bahwa "komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik. "All of the functions performed in the political system, political socialisation and recruitment, interest articulation, interest aggregation, rule making, rule application, and rule adjudication, are performed by means of communication."
   Dalam komunikasi Politik terdapat bagian-bagian yang berguna untuk menfokuskan arah tujuan komunikasi politik dengan berbagai cara. Hal ini di karenakan dalam komunikasi politik orang-orang yang terlibat sangatlah banyak, sehingga untuk memetak-metakan tata cara dalam berkomunikasi politik ini juga menentukan keberhasilan komunikasi politik. Antara lain cara-cara tersebut adalah propaganda dan retorika dalam melaksanakan komunikasi politik. Hal ini di lakukan oleh komunikator politik untuk mempermudah menyampaikan pesan politiknya kepada khalayak umum, baik secara langsung maupun menggunaka media.
B.     Propaganda dan Komunikasi Politik
1.      Pengertian Propaganda
    Propaganda merupakan bagian dari Politik, sehingga dalam Komunikasi Politik, Propaganda turut menjadi cara yang di pilih oleh komunikator politik untuk menyampaikan pesan Politiknya. Asal istilah propaganda yang berpengaruh terhadap gejala sosial secara terorganisasi dapat diidentivikasi sekitar satu setengah abad yang lalu. Pada tahun 1622 Paus Gregorius XV membentuk suatu komisi para cardinal,Congregatio de Propaganda Fide, untuk menumbuhkan keimanan Kristiani di antara bangsa-bangsa lain. Secara khas para misioner ini ditugasi untuk menyebarkan doktrin gereja    dan dibentuk kelompok yang terdiri dari beberapa orang,dari tiap-tiap anggota diharapkan mampu mencari ribuan pemeluk baru (Nimmo : 1999).
        Dari ilustrasi di atas, karakteristik utama kegiatannya, yaitu propaganda sebagai proses komunikasi dari satu ke banyak. Propaganda adalah seseorang atau kelompok kecil yang penting khalayak kolektif yang lebih besar. Masyarakat yang telah mengalami dampak moderenisme adalah masyarakat propaganda total, ciri-cirinya yaitu:
  Sebuah. komunikasi satu-kepada-banyak,
b. terhadap orang-orang yang mereka anggap sebagai anggota kelompok,
c. sebagai mekanisme kontrol sosial dengan menggunakan persuasi untuk mencapai ketertiban. Jacques Ellul, seorang sosiolog dan filosof Prancis, mendefinisikan propaganda sebagai komunikasi yang "Digunakan oleh suatu kelompok terorganisasi yang ingin menciptakan partisipasi aktif atau pasif dalam tindakan yang terdiri atas individu-individu, dipersatukan secara logis melalui manipulasi psikologis dan gabungan dalam suatu organisasi"(Nimmo:1999).

2. Propaganda sebagai bagian dari Komunikasi Politik
     Propaganda sebagai bagian penting dalam komunikasi politik, hal ini karena propaga member pengaruh penting terhadap suksenya suatu kegiatan Politik.
Propaganda dapat dianggap sebagai suatu kampanye dengan sengaja mengajak dan membimbing untuk mempengaruhi atau membujuk orang guna menerima suatu pandangan,nilai atau ide terlepas dari baik atau buruknya hal-hal tersebut.
Menurut AC Manulang, seorang pakar intelejen menyebutkan dalam operasi intelejen terdapat tiga jenis propaganda. Pertama white propaganda. Yaitu mempropagandakan yang baik-baik dari kerja opersi intelejen. Kedua,black propaganda yaitu mempropagandakan hal yang jelek-jelek terhadap target intelejen dan grey propaganda yaitu mempropagandakan sesuatu yang tidak jelas faktanya, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.           
     Dalam perkembangannya kini, propaganda menjadi satu cara para elit politik untuk membentuk suatu opini dalam mempertahankan ideologi politik yang diyakini serta memperkokoh hubungan antara partai politik dan partisipan dalam menggalang kesetiaan mereka sederhananya propaganda adalah control sosial.  Common Methodes for transmiting propaganda message include news, reports, historical religion, theather, books, leaflets, movies, radio , television and poster. They are techniques of proganda transmission. ( Metode umum yang biasanya digunakan untuk menyalurkan pesan propaganda termasuk berita, laporan, sejarah agama , teater, buku-buku, selebaran-selebaran, film, radio televisi dan poster).
     Dalam bukunya Suryadi (1993) menuturkan bahwa menurutnya Propaganda adalah sistem komunikasi politik terdiri dari elit politik, media massa dan khalayak. Dari kedua pendapat tadi dapat kita temui posisi penting media dalam propaganda politik. Setiap persuasi politik yang mencoba memanipulasi psikologis khalayak sekarang ini, sangat mempertimbangkan peranan media massa.  Dengan daya jangkau yang relatif luas, dan dalam waktu yang serentak, mampu memainkan peran dalam propaganda. Relevan dengan pendapat Cassata dan Asante, seperti dikutip Jalaluddin Rakhmat (1994), bila arus komunikasi massa ini hanya dikendalikan oleh komunikator, situasi dapat menunjang persuasi yang efektif. Sebaliknya bila khalayak dapat mengatur arus informasi, siatusi komunikasi akan mendorong belajar yang efektif.
3. Jenis-jenis Propaganda
    Selain dalam hal definisi, pendapat juga terjadi dalam hal klasifikasi Propaganda. Ada yang melihatnya dari sisi sumber Propaganda, dan juga ada yang melihatnya dari keterangan tujuan Propaganda itu sendiri. William E. Daugherty dan Morris Janowitz dalam A Psycological Warfare Casebook mengklasifikasikan Propaganda bedasarkan sumbernya sebagai berikut :
a.       White Propaganda, yaitu Propagaanda yang sumbernya dapat di identifikasi secara jelas dan terbuka. White Propaganda juga di sebut overt Propaganda atau Propaganda terbuka. Dalam ajang pemilu Propaganda jenis ini lebih sering di praktikan karena Propaganda ini sering muncul sebagai iklan Propaganda.
b.      Black Propaganda , disebut juga covert propaganda atau propaganda terselubung, yaitu propaganda yang seolah-olah menunjukan sumbernya, padahal bukan sumber yang sebenarnya. Dengan kata lain, ini jenis Propaganda yang di lakukan secara tersembunyi. Sehingga dengan begitu ketika propaganda itu melanggar hokum, norma atau etika amatlah susah menemukan otak di balik propaganda yang terjadi. Propaganda ini biasanya digunakan untuk menjatuhkan lawan pilitik melalui terror, stigma buruk, dan ancaman-ancaman atau bahkan perang opini.
c.       Grey Propaganda, yaitu propaganda yang seolah-olah berasal dari sumber yang netral, sebenarnya propaganda yang terjadi berasal dari pihak lawan. Pelaku propaganda ini menghindari identifikasi baik dari sumber yang bersahabat ataupun sumber yang berlawanan. Sementara Mertz dan Lieber dalam conflict in context Understanding local to global security, juga doob dalam Public opinion and Propaganda, mnegategorikan propaganda menurut jelas atau tidaknya tujuan pesan yang di sampaikan.
   Selain yang sudah disebutkan di atas ternyata juga ada propaganda yang dilakukan diluar bidang komersil dan politik, yaitu kampanye untuk amal atau kampanye untuk mendapat perhatian umum terhadap suatu kepentingan social, usaha untuk mendapat pengakuan terhadap teori-teori ilmiah atau suatu gaya asitektur tertentu dan promosi untuk suatu prinsip higenis atau suatu kesatuan.
   Beberapa ahli membedakan propaganda menjadi propaganda disengaja dan tidak disengaja, (Nimmo : 2000) menjelaskan dengan memberikan contoh misalnya perbedaan seorang guru ekonomi yang dengan sengaja mendoktrin siswanya dengan pandangan-pandangan Marxis dan guru ekonomi yang ketika menjawab suatu pertanyaan, secara spontan menunjukkan segi-segi positif dalam filsafat ekonomi marxis dabandingkan kapitalisme.
     Tidak hanya itu, ada juga propaganda yang disebut Propaganda of the deed dengan penjelasan sebagi berikut seperti yang di tuturkan oleh (Sastropoetro : 1991), suatu tindakan atau peragaan yang bersifat public  dengan tujuan atau akibat meneruskan atau menghalangi suatau maksud. Efek komunikasi terkadang dapat di raih dengan bantuan sarana fisik yang biasanya tidak digunakan untuk tujuan tersebut. Tindak pembunuhan tidak lazimnya sebagai metode komunikasi, namun pembunuhan dapat dianggap sebagai propaganda of the dead manakala pembunuhan terhadap politis dilakukan sebagai sarana untuk mempengaruhi sikap.

C.     Retorika dan Komunikasi Politik
1.      Pengertian Retorika
     Retorika dari bahasa Yunani orator, guru adalah sebuah teknik pembujuk kalimat secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen, logo Aristoteles mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The Rhetoric with judul 'Grullos' atau Plato menulis dalam bahasa Gorgias, secara umum adalah seni manipulatif atau teknik persuasi politik yang sedang transaksional dengan menggunakan lambang untuk mendapatkan pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan, kepercayaan dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969) sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media lisan atau tertulis, Definisi dari retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik sebagai bahan studi di universitas. Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik (dengan definisi yang sudah tersedianya di atas) dan praktik kontemporer dari retorika yang termasuk analisis atas teks dan visual.
   Sehingga dengan pengertian yang demikian sudah pasti Retorika adalah sebuah jenis komunikasi yang penting dalam pilitik, sehingga retorita juga dapat disebut dengan Komunikasi Politik. Retorika sangat perlu di kuasi oleh politisi dan orang-orang yang berkencimpung di dunia Politik, karena kemahiran retorika menjadi peran penting bagi kesuksesan sebuah komunikasi politik untuk menyampaikan pesan politiknya kepada massyarakat yang bertindak sebagai komunikannya. Bagus tidaknya politikus beretorika juga menjadi nilai penting dalam mempengaruhi masyarakat, karena jika seorang politikus tidak mahir memainkan retorika ketika menyampaikan pesan politiknya maka masyarakat tidak akan terpengaruh olehnya.
2.      Retorika dalam Komunikasi Politik
   Retorika adalah seni dalam berbicara,  sehingga kemahiran seseorang dalam beretoorika turut menjadi pengaruh ketertarikan orang lain terhadap komunikasi yang dilakukan. Terutama dalam hal Politik dimana komunikasi dilakukan secara besar-besaran baik secara langsung ataupun melalui media seperti televise, radio dan lainnya. Jika retorika di kuasai oleh seorang politikus untuk menyampaikan politiknya, ini juga turut menjadi kunci bagi kesuksesan misi suatu kelompok politik untuk memenangkan partainya dalam pertarungan politik. Karena dalam menyampaikan pesan politiknya seseorang yang menguasai retorika  akan lebih mendapat perhatian oleh masyarakat di tambah lagi denngan ketegasan seorang komunikator dalam menyampaikan visi dan misinya dalam menyampaikan pesan politik.
   Retorika sama halnya dengan pidato yang di lakukan oleh seseorang untuk menyampaikan pesannya. Tentu hal ini sangat berkaitan dengan kegiatan politik, dimana  sering kita jumpai bahwa dalam kegiatan politik identik dengan pidato oleh seorang pemimpin, calon pemimpin, politikus, atau bahkan oleh orang-orang biasa untuk menyampaikan pesan politiknya. Retorika juga biasanya juga sering dilakukan pada saat kampanye di lakukan dimana banyak team sukses dari kelompok-kelompok politik untuk bertarung secara berorika menarik masyarakat dengan pidato penyampaian pesan-pesan politiknya. Hal tersebut biasanya dilakukan melalui komunikasi secara langsung ataupun tidak langsung melalui media penyiaran.
3.      Jenis-jenis Retorika
   Jenis-Beroperasi Teori Retorika Adalah shalat Satu ragam Retorika Yang Telah dikelompokan berdasarkan fungsinya, situasai Yang Tepat dan ketepatan using Beroperasi Retorika hearts penyampaian gagasan atau penyampaian Pidato, dengan mengetahui Jenis beroperasi Retorika maka Teori Retorika akan lebih Mudah dipahami dan dilaksanakan Bagi orator atau pembicara Jenis - jenis retorika atas:
a.       Retorika forensik (forensic retorika), berkaitan dengan keadaan Dimana pembicara mendorong timbulnya rasa bersalah atau tidak bersalah Dari khalayak. Pidato forensik atau also disebut Pidato Yudisial biasanya ditemui hearts Kerangka hukum. Retorika forensik berorientasi pada masa waktu lampau. Contoh Retorika forensik yaitu Retorika atau seni berbicara yang digunakan oleh seorang hakim dalam menimbang keputusan tentang salah atau tidak seorang tersangka dalam perkara yang disidangkan dilihat dari perbuatanya di masalalu.
b.      Retorika epideiktik (retorika epideictic), adalah jenis Retorika yang berkaitan dengan wacana yang berhubungan dengan pujian atau tuduhan. Pidato epideiktik Sering disebut also pidato seremonial. Pidato jenis ini disampaikan ditunjukan kepada public dengan tujuan untuk review memuji, menghormati, menyalahkan dan mempermalukan. Pidato jenis berfokus Suami pada isu - isu sosial yang ada pada masa sekarang.
c.       Retorika deliberatif (retorika deliberatif), adalah jenis Retorika Yang menentukan tindakan yang Harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan oleh khalayak. Pidato penyanyi Sering disebut also dengan Pidato Politis. Pidato deliberatif berorientasi pada masawaktu yang akan datang. Contohnya Pidato yang disampaikan oleh calon ketua partai dalam kampanye.

3.Kanon Retorika
   Kanon merupakan tuntunan atau prinsip-prinsip yang harus diikuti oleh pembicara agar Pidato persuasive dapat menjadi efektif, yaitu:
a. Penemuan, didefinisikan sebagai konstruksi atau penyusunan dari Suatu argumen yang relevan hati dengan tujuan dari suatu pidato. Dalam hal ini perlu adanya Integrasi cara berfikir dengan argumen Pidato. Oleh karena itu, dengan menggunakan Logika dan bukti pidato dapat membuat sebuah pidato menjadi lebih kuat dan persuasif. Hal yan membantu penemuan adalah topik. Topik adalah bantuan terhadap yang merujuk pada argumen yang digunakan oleh pembicara. Para pembicara juga bergantung pada civic ruang atau metafora yang menyatakan bahwa pembicara memiliki lokasi-lokasi dimana terdapat kesempatan tinjauan untuk review membujuk orangutan lain.
2. Pengaturan (pengaturan), berhubungan dengan kemampuan pembicara untuk review mengorganisasikan pidatonya Pidato beroperasi umum harus mengikuti pendekatan yang terdiri perbedaan tiga hal, Pengantar (Pengenalan), batang Tubuh (body), dan kesimpulan pengantar merupakan bagian dari pengembangan-pengembangan strategi organisasi hati Serta Suatu Pidato Yang Cukup menarik Perhatian khalayak, menunjukkan topik hubungan dengan khalayak, Dan memberikan bahasan singkat mengenai tujuan pembicara. Batang tubuh merupakan bagian dari pengembangan pengembangan strategi organisasi serta dari pidato argumentasi yang mencakup, contoh dan rinci penting tinjauan untuk review menyampaikan Suatu Pemikiran . kesimpulan atau epilog merupakan Bagian Dari Pengembangan pengembangan strategi organisasi serta hati pidato yang ditujukan untuk review merangkum poin-poin penting yang telah disampaikan pembicara dan menggugah tinjauan untuk review emosi di hati khalayak.
3. Gaya (style), merupakan kanon Retorika yang mencakup penggunaan bahasa untuk review menyampaikan ide-ide didalam sebuah pidato. Dalam penggunaan bahasa harus menghindari glos (kata-kata yang sudah kuno hati pidato), akan tetapi lebih dianjurkan menggunakan metafora (majas yang membantu Untuk membuat hal yang tidak jelas menjadi lebih mudah dipahami). Penggunaan gaya memastikan bahwa suatu pidato dapat diingat dan bahwa ide-ide diperjelas dari pembicara.
4. Penyampaian (delivery), adalah kanon retorika yang merujuk pada presentasi nonverbal dari ide-ide pembicara. Penyampaian biasanya mencakup beberapa perilaku seperti kontak mata, tanda vokal, ejaan, pengucapan kejelasan, dialek, gerak tubuh, dan penampilan fisik. Penyampaian yang efektif mendukung kata-kata pembicara dan membantu mengurangi ketegangan pembicara.
5. Ingatan (Memori) adalah kanon retorika yang merujuk pada usaha-usaha tinjauan pembicara untuk review menyimpan tinjauan informasi untuk review sebuah pidato. Mencari google artikel ingatan, Seseorang pembicara dapat mengetahui apa saja yang akan dikatakan dan kapan mengatakannya, meredakan ketegangan pembicara dan memungkinkan pembicara untuk review tinjauan merespons hal-hal yang tidak terduga.
D. Kesimpulan
      Propaganda dan Retorika adalah konsep-konsep penting yang harus dilakukan dalam kegiatan Politik, karena keduanya berpengaruh penting dalam kegiatan politik. Bahkan dalam praktiknya, komunikasi politik sangat perlu penyampaian menggunakan metode propaganda dan retorika baik secara langsung ataupun melalui media. Hal ini karena propaganda dan retorika mempermudah kegiatan politik, baik dari persaingan politik ataupun untuk tujuan politik. Dalam kegiatan politik apapun, mulai dari kampanye dengan kerasnya persaingan-persaingan antar kelompok politik, ataupun bahkan dalam kondisi netral jauh dari pemilu propaganda dan retorika tetap sering dilakukan oleh pelaku politik, baik oleh pemimpin, politikus, orang-orang yang berkecimpung dalam lingkungan politik, bahkan oleh masyarakat umum.















Daftar Pustaka
Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994)
Nimmo, Dan. Komunikasi Politik, CetIII; Surabaya: PT Remaja Rosdakarya 1999.
Gabriel Almond : The Politics of the Development Areas, 1960.
Barat, Richard Pengantar Teori Komunikasi: Teori dan Aplikasi Jakarta: Salemba Humanika, 2008

  

  
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH MATA KULIAH KOMUNIKASI POLITIK ( Propaganda   dan Komunikasi Politik & Retorika dalam Komunikasi Politik ) Oleh : ...