Rabu, 21 Maret 2018


SEJARAH PERTUMBBUHAN DAN PERKEMBANGAN ILMU PERBANDINGAN AGAMA


Oleh :
Zakaria efendi

I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
   Perbandingan agama merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang  keberadaannya masih tergolong muda bila dibanding dengan  ilmu sosial lainnya. Ilmu ini lahir dan diakui sebagai suatu ilmu yang  berdiri sendiri pada bagian akhir pertengahan abad ke 19. Penelusuran sejarah pertumbuhan Imu Perbandingan Agama, dapat dilakukan melalui perkembangan pemikiran dan melalui kajian-kajian agama sebelumnya. Biasanya, kajian-kajian agama itu selalu dihubungkan dengan perkembangan pemikiran keagamaan sejak zaman Yunani Kuno, Romawi Kuno sampai masa barat sebelum sebelum dan sesuadah abad ke 19 yang di tandai dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan. Oleh karena itu kelahiran Ilmu Perbandingan Agama ada hubungannya dengan tahapan-tahapan kajian pada masa-masa itu (Adeng Muchtar : 2000).
   Pada dasarnya keberagaman Agama juga turut memunculkan ilmu perbandingan Agama yang bertujuan untuk mengkaji masing-masing agama dengan cara yang benar. Tentu hal ini diaksudkan untuk memberikan fasilitas ilmu kepada umat manusia untuk memeluk keyakinan sesuai dengan tujuannya beragama. Dengan ilmu perbandingan agama manusia diberikan dua fasilitas tertulis untuk mempelajari agama yaitu dengan mempelajari kitab-kitab suci dan buku-buku ilmu perbandingan agama.
    Ilmu perbandingan agama sejatinya tercipta bukan sebagai ajang perdebatan antar pemeluk agama-agama, melainkan ilmu perbandingan agama muncul sebagai fasilitas untuk menengahi akan adanya berbagai macam agama. Sehingga dengan diskusi-diskusi keagamaan menggunakan ilmu perbandingan agama umat manusia akan mendapatkan pencerahan dan pemahaman terhadap agama yang di peluknya. Dengan begitu ilmu perbandingan agama juga dapat di katakana sebagai bekal ilmu pengetahuan untuk terciptanya keberagaman agama yang harmonis, karena membandingkan agama tidak dilandaskan pada pendapat dan keyakinanya sendiri, melainkan juga berdasarkan ilmu-ilmu yang menuntunya.

B.     Tujuan
     Tujuan dari penulisan artikel ini tentang “Sejarah dan Perkembang Ilmu Perbandingan Agama adalah sebagai wujud penulis memenuhi kewajibanya yang mengikuti mata kuliah Perbandingan agama. Selain itu supaya artikel ini dapat sebagai pembuka dan penambah wawasan mahasiswa dalam mata kuliah perbandingan agama deengan mempelajari sejarah dan perkembangan mata kuliah yang sedang mereka jalani.


C.     Manfaat
    Sedangkang manfaat dari penulisan artikel ini adalah untuk sebagai rujukan bagi mahasiswa yang sedang belajar di mata kuliah perbandingan agama. Selain itu juga dapat memberikan pengetahuan tentang ilmu perbandingan agama yang akan bermanfaat untuk pegangan dalam berkehidupan mahasiswa di jurusan komunikasi dan penyiaran islam.
II.                PEMBAHASAN

  Sejak timbulnya agama-agama didunia, maka ahli-ahli pikir telah telah menilai agama mereka masing masing dalam hubunganya dengan agama-agama lain. Banyaklah sudah teori dikemukakan orang untuk menghubungkan satu agama dengan yang lainnya, teori tentang kodrat agama, hukum-hukum yang mengenai pertumbuhan agama dan interpretasi tentang asal-usul agama. Dr.Lehman dari universitas lund memberikan ringkasan yang sangat baik tentang sejarah pertumbuhan ilmu agama ini. Ternyata jauh sebelum Kristus sudah banyak sarjana serta ilmuwan agama yang memberikan sketsa tentang sejarah berbagai agama dan menggambarkan adat-istiadat dan bangsa-bangsa lain yang diketahui pada waktu itu,mereka itu adalah Herodotus (481).Beroses (250 M).Cicero (106-8 SM) DAN Sallustius (86-34 SM) ( Mukti Ali : 2000).
  Untuk pertama kalinya orang menjumpai Dokumen studi tentang agama di kalangan yunani Kuno.sejak abad ke-5 SM.di sini minat terhadap studi agama itu di utarakan dengan dua cara pertama melalui catatan-catatan agama bukan yunani .cara ke dua adalah kritik filosofis terhadap agama tradisional (Mircea Eliade :1959). Pengenalan awal tentang ilmu perbandingan agama, setidaknya dapat dimulai dari kehidupan masyarakat Yunani dan Romawi Kuno. Dimana religiusitas masyarakat Yunani dan Romawi Kuno memiliki kesamaan, diantara karakteristik yang terdapat dalam kehidupan keberagamaannya, bisa dilihat dari  ciri-ciri sebagai berikut.
A.    Zaman Yunani dan Romawi
   Sekalipun secara politis masyarakat Yunani Kuno dikuasai oleh bangsa Romawi Kuno, jika dilihat dari sisi religiusitasnya, keduanya memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda. Banyak tradisi dan isme keagamaan bangsa Yunanimasih dikembangkan atau diambil alih oleh kekaisaran Romawi. Kalaupun ada perbedaan, hanyalah terletak pada sebutan formal terhadap tradisi atau isme yang bersangkutan. Misalnya sebutan dewa Zeus pada masyarakat Yunani Kuno, menunjukan pada  dewa langit yang dipandang memiliki otoritas tinggi di antara para dewa lainnya, di lingungan Romawi disebut dewa Yupiter, dewa langit, yang memiliki ootoritas sebagai dewanya dewa ( Adeng Muchtar : 2000).
    Karena religiusitas kedua bangsa tersebut memiliki kesamaan, kajian-kajian agama dari para ahli pada masa itu hampir memiliki kesamaan pula. Jika kedua masyarakat tersebut  dikarakteristikkan tersimpul dua ciiri, yaitu:
1.      Baik masyarakat Yunani Kuno atau Romawi kuno memiliki kepercayaaan yang Politeistis.
2.      Konsepsi ketuhanan kkedua masyarakat tersebut adalah anthropomorfis (M.Eliade : 1959).
  Kembali pada sejarah terutama sekali  setelah panaklukan Iskandar Agung (356-323 SM) bahwa penulis-penulis Yunani berkesempatan untuk mendapatkan secara langsung mengetahui tradisi keagamaan orang-orang Timur dan kemudian menguraikannnya. Padda zaman pemerintahan Iskandar Agung, Berossus seorang pendeta Bel dari Chaldea telah menerbitkan buku berjudul Babylonika. Seagai seorang sejarawan dia tidak menolak pertimbangan-pertimbangan teoretis. Ia telah mengumpulkan mite-mite bangsa Assiria serta menguraikan praktik-praktik keagamaan bangsa Assiria yang kemungkinan besar dasar-dasar informasinya berasal dari inkripsi-inkripsi ataupun dokumen-dokumen asli lainnya. Ia juga telah menlis panjang lebar mengenai astrologi, sehingga karena sumbangannya itu mempercepat berkembangnya ilmu ini (Zakiah Daradjat, dkk : 1996).
   Dalam hal ini perlu disebutkan bahwa para sarjana Asia juga mempeljari agama-agama Asia. Gambaran deskripsi agama-agama India karya orang Cina telah dibuat oleh penziarah agama Budha seperti Fa-hien (abad ke-5) dan Hiuen-Tsiang (abad ke-7) adalah merupaka karya yang pertama.  Selang beberapa saat para sejarawan dan geografis Bangsa Arab telah mulai mengadakan perjalanan dan mengembara ke benua Asia untuk mengumpulkan data pembawaan geografis. Meskipun terutama minatnya itu dalammasalah bentuk agama Budha, Brahma dan agama Mani, namun mereka mengumpulkan data tentang agama suku-suku bangsa. Diantara para pengembara Arab yang lebih terkenal adalah Tabari, Mas’udi, dan Al Biruni.
     Barangkali saja sitematika perbandingan sejarah agama yang mula-mula telah diperkenalkan oleh seorang sarjana Muslim bernama Shahrastani dengan karyanya Al Milal wa al Nihal. Setelah memperbandingkan semua agama-agama yang dikenal ( tidak termasuk agama-agama suku), ia mengadakan empat kelompok tipologi. Yaitu Islam, Yahudiyang dikelompokkan dalam literary religions, Zoroasterdan agama Mani yang digolongkan quasi-literary religions, Budha dan Hindu yang dikelompokkan dalam dalam philosophical and self willed religions. Shasarani adalah seorang sarjana terdahulu yang menerapkan metode ilmiah dalam studi agama. Pada masa-masa berikutnya orang Eropa yang pertama mengikuti langkah ini adalah Roger Bacon (1214-1294). Bacon studi di oxford dan paris dan kemudian mengajar di Universitas Oxford. Ssebagaimana Shasarani, bacon juga membuat suatu tipologi yang bermaksud untuk mencankup seluruh agama-agama didunia. Yaitu, agama pagan ( mereka yang menyembah alam dan gejala alam) penyembah-penyembah berhala (agama polities dan budha), agama bangsa mongol yang memadukan monoteisme dengan penyembah api dan magi, agama islam , agama yahudi.
B.     Masa Barat
   Masa Barat adalah barat dalam hal pengertiann kulltur dan agama. Pada masa ini, pengertian kultur selalu dihubungkan dengan misi penjajahan, sedangkan pengerian agama identik dengan pengetahuan , yakni agama Kristen. Oleh karena itu, dalam kajian-kajian agama yang dilakukan orang barat, misi penjajahan dan Kristen selalu bergandengan. Sekalipun demikian , tentu saja cirri kajian agama yang dilakukan orang barat tidak selalu demikian. Pada perkembangan studi agama berikutnya , terutama menjelang lahirnya science of religion atau Religionswissenschaft, ilmu pengetahuan secara metodologis menjadi semangat atau faktor utamanya.
   Masa barat sebelum lahirnya ilmu perbandingan agama bisa dikategorikan sebagai berikut:
1.      Sinkritisme, bahwa latar belakang masyarakatbarat dalam mengkaji agama didasarkan pada fakta keagamaan yang ditemukan. Secara formal, Kristen menjadi agama orang barat, tetapi pada kenyataannya ada pula yang masih mempraktikkann agama non Kristen. Atas dasar ini orang-orang barat menelusuri asal-usul tradisi keagamaan tadi dengan maksud untuk memisahkan tradisi keagamaan Kristen dengan non Kristen. Dari hasil kajian ini terdapat beberapa teori, baik yang menyangkutmetode maupun pendekatan tentang asal-usul agama.
2.      Penemuan area baru, hal ini berkaitan dengan penjajahan, aau karena menemukan lokasi baru . Di lokasi baru ini,mereka melakukan penelitian keagamaan tntang isme-isme dan tradisi keagamaan yang berkembang . dari hasil penelitian ini ditemmukan agama-agama dan kepercayaan dan keperayaan baru yang sbelumnya belum diketahui.
3.      Kepentingan missionari, hal ini berkaitan dengan kepentingan agama Kristen untuk melakukan perluasan dan penyebaran agamanya (Farichin, ch, 1987 : 3-5)

Latar belakang kajian barat agama ini melhirkan beberapa teori studi agama. Roger Bacon (1214-1294) misalnya, orang inggris yang untuk lingkungan Eropa merupakan orang pertama yang ahli di bidang perbandingan sejarah agama. Berdasarkan pendekatan perbandingan sejarah ini , ia menemukan beberapa tipologi agama yang ada di dunia .
Begitu pula Loard Herbert (1583-1648) seorang ahli dibidang studi perbandingan , yang berkesimpulan ahwa yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya adalah agama. Oleh karena itu , tidak ada yang disebut Ateis. Ateis hanyalah orang yang berkeberatan untuk mempercayai Tuhan . dia mencirikan beberapa aspek disebut agama, yakni:
1.      Ada dzat yang suci;
2.      Ada unsure penyembahan;
3.      Ada tujuan kebijakan;
4.      Ada unsure tobat; dan
5.      Ada sanksi, yakni pahala dan siksa. ( Majalah wawasan, 1993:33)

Lim aspek tersebut mirikp dengan yang dikemukakan oleh Roland Robertson (1988:56) sebagai berikut :
1.      Keyakinan , yakin doktrin agama;
2.      Praktek agama, meliputi pemujaan dan ketaatan;
3.      Pengalaman agama;
4.      Pengethuan agama;dan
5.      Konsekuensial.

C.     Masa Barat dan Kemajuan Ilmu Pengetahuan
    Menjelang abad ke-19 atau pada saat-saat kemunculan ilmu Perbandingan Agama terdapat semangat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta orientasi studi Agamapun mengalami perubahan. Studi agama-agama tidak lagi bersifat Primordial atau hanya untuk kepentingan penyebaran Agamanya, tetapi lebih didorong oleh semangat metodologis atau ilmiah, yakni berangkat atas kepentingan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Munculah berbagai kajian agama dengan metode dan pendekatan yang beragam pula, sesuai dengan kecenderungan akademik para penstudi itu sendiri.
    Oleh karena itu, pada masa kemajuan ilmu pengetahuan itu, kecenderungan untuk mengkaji agama secara kritis dan ilmiah berkembang pesat. Agama dijadikan  sebagai pokok perbincangan, baik dari arti praktis maupun teoritis. Berkaitan dengan ini ada beberapa alasan yang mendukungnya, yaitu:
1.      Kemajuan pesat ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemikiran-pemikiran ilmiah mempengaruhi dinamika beragama sehingga minat intelektual untuk mengkaji agama secara lebih mendalam menjadi sangat tinggi.
2.      Kecenderungan untuk merekonstruksi agama dalam upaya mengembangkan pada semua urusan dunia.
3.      Pengaruh-pengaruh sosial,politik,dan peristiwa-peristiwa internasional yang mempengaruhi agama-agama (James Hasting, ed. Tt., Vol.10,662)..
   Salah seorang penstudi agama pada masa itu adalah Friedrich Max Muller (1823-1900), seorang berkebangsaan Jerman yang pada tahun 1867 memperkenalkan religionswissenchaft untuk melakukan penelitian ilmiah terhadap agama dengan menggunakan pendekatan filologi. Menurut Mukti Ali, scientificreligionswissenchaft dibawa oleh Muller pada masa elightement. Sebagaimana para pemikir agama zaman ini, Muller menekankan “religi naturalis”, yakni asal-usul alami dari agama akal dan berpendapat bahwa kebenaran dapat ditemukan pada esensi yang paling universal dari agama dan bukan manifestasinya yang khas.
   Ilmu agama-agama (religionswissenchaft) atau science of religions sebagai suatu disiplin yang mandiri, bertujuan untuk menganalisis unsure-unsur yang sama dari agama-agama yang berbeda sehingga dapat diketahui hokum-hukum perkembangannya, terutama untuk membatasi asal-usul dan bentuk pertama dari agama itu. Dengan demikian, ilmu ini memberikan tambahan yang berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini. Ilmu perbandingan agama lahir sejak abad ke-19 dan dicetuskan hampi bersamaan dengan ilmu bahasa, filologi.
    Joachim Wach, sebagaimana di kutip Romdhon tahung 1996 menyatakan bahwa perintis keilmiahan studi agama ini adallah Mark Muller dengan bukunya Comparative Mhitology, kemudian Intriduction to the science of religion. Pada masa permulaannya, yang menjadi objek favorit ilmu ini adalah mite dan mengutamakan to understand other religion. Pada masa ini di dominasi oleh wataknya yang mengutamakan objektivitas. Atak objektif ini merupakan watak keilmuan.
   Kajian-kajian agama yang dikembangkan ilmu perbandingan agama saat ini tidak terlepas dari suasana historis dan cultural tempat agama itu berkembang. Semangat pengetahuan, sebagaimana yang sudah dijelaskan diatas sangat dominan dalam mengkaji agama. Berbeda dengan awal masa-masa pengkajian agama sebelum muncul ilmu perbandingan agama, yang menunjukan semangat keagamaan tertentu lebih dominan dalam mengkaji agama, sehinggga mengabaikan kebenaran agama orang lain (Adeng Muchtar : 2000).










III.             PENUTUP
A.    Penutup
     Ilmu perbandingan Agama sejatinya sudah ada sejak zaman yunani kuno dan Romawi kuno, hal ini menunjukkan bahwa manusia sudah mengalami kemajuan berfikir dengan sanggup memilih keyakinan. Dengan begitu manusia saat itu akan berfikir kembali dan menyakini suatu keyakinan yang sesuai dengan kelompok-kelompoknya. Sehingga pada masa itu memunculkan kepercayaan teerhadap dewa-dewa dan fenomena alam yang mereka anggap sebagai suatu yang agung layaknya Tuhan. Memasuki abad ke -19 pemikiran ilmu perbandingan agama modern telah memunculkan tokoh yang fenomenal dalam disiplin ilmu ini, yaitu Mark Muller. Keyakinan setelah hilangnya kekuasaan Yunani dan Romawi memunculkan agama-agama yang mengikuti kebudayaan dimana agama itu muncul. Sehingga dengan begitu ilmu perbandingan agama juga dapat di jadikan disiplin ilmu untuk mengetahui dan mempelajari sejarah-sejarah kemunculan agama. Hal ini tentu sangat beranfaat bagi para kalangan akademisi saat ini untuk mengembangkan keilmuannya dalam hal perbandingan agama untuk mengkaji kebenaran agama-agama yang ada.
















Daftar pustaka
Adeng Muchtar Ghazali.2000. Ilmu Perbandingan Agama. CV Pustaka Setia. Bandung
Joachim Wach.1958. The Comparative Study of Religions, diedit oleh J. M. Kitagawa, Columbia University Press, New York, edisi Indonesia diterbitkan oleh Rajawali, Jakartaa, 1984
James Hastings, tt. Encyclopaedia of Religions and Ethics, Vol.10, Scribner’s, New York
Joachim Wach.1958. The Comparative Study of Religions, diedit oleh J. M. Kitagawa, Columbia University Press, New York, edisi Indonesia diterbitkan oleh Rajawali, Jakartaa, 1984
Mircea Eliade,the sacred and the profane .New york dan London .Harcourt,Brace dan World inc.1959 hlm 219
Mircea Eliade and Joseph M. Kitagawa,ed.1959. The History Of Religions, Essays in Methodology, the University of Chicago Press, London.
Mukti Ali.1969. Ilmu Perbandingan Agama, Yogyakarta: Yayasan Nida Yogyakarta
Roland Robertson.1985. Sosiologi Agama. Rajawali. Jakarta
Zakiah Daradjat,dkk.1996. Perbandingan Agama. Bumi Aksara. Jakarta




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH MATA KULIAH KOMUNIKASI POLITIK ( Propaganda   dan Komunikasi Politik & Retorika dalam Komunikasi Politik ) Oleh : ...