SEJARAH
PERTUMBBUHAN DAN PERKEMBANGAN ILMU PERBANDINGAN AGAMA
Oleh
:
Zakaria
efendi
I.
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Perbandingan agama merupakan suatu cabang
ilmu pengetahuan yang keberadaannya masih tergolong muda bila dibanding
dengan ilmu sosial lainnya. Ilmu ini lahir dan diakui sebagai suatu ilmu
yang berdiri sendiri pada bagian akhir pertengahan abad ke 19. Penelusuran sejarah pertumbuhan Imu Perbandingan Agama, dapat
dilakukan melalui perkembangan pemikiran dan melalui kajian-kajian agama
sebelumnya. Biasanya, kajian-kajian agama itu selalu dihubungkan dengan
perkembangan pemikiran keagamaan sejak zaman Yunani Kuno, Romawi Kuno sampai
masa barat sebelum sebelum dan sesuadah abad ke 19 yang di tandai dengan
kemajuan pesat ilmu pengetahuan. Oleh karena itu kelahiran Ilmu Perbandingan
Agama ada hubungannya dengan tahapan-tahapan kajian pada masa-masa itu (Adeng
Muchtar : 2000).
Pada
dasarnya keberagaman Agama juga turut memunculkan ilmu perbandingan Agama yang
bertujuan untuk mengkaji masing-masing agama dengan cara yang benar. Tentu hal
ini diaksudkan untuk memberikan fasilitas ilmu kepada umat manusia untuk
memeluk keyakinan sesuai dengan tujuannya beragama. Dengan ilmu perbandingan
agama manusia diberikan dua fasilitas tertulis untuk mempelajari agama yaitu
dengan mempelajari kitab-kitab suci dan buku-buku ilmu perbandingan agama.
Ilmu
perbandingan agama sejatinya tercipta bukan sebagai ajang perdebatan antar
pemeluk agama-agama, melainkan ilmu perbandingan agama muncul sebagai fasilitas
untuk menengahi akan adanya berbagai macam agama. Sehingga dengan diskusi-diskusi
keagamaan menggunakan ilmu perbandingan agama umat manusia akan mendapatkan
pencerahan dan pemahaman terhadap agama yang di peluknya. Dengan begitu ilmu
perbandingan agama juga dapat di katakana sebagai bekal ilmu pengetahuan untuk
terciptanya keberagaman agama yang harmonis, karena membandingkan agama tidak
dilandaskan pada pendapat dan keyakinanya sendiri, melainkan juga berdasarkan
ilmu-ilmu yang menuntunya.
B. Tujuan
Tujuan dari penulisan artikel ini tentang
“Sejarah dan Perkembang Ilmu Perbandingan Agama adalah sebagai wujud penulis
memenuhi kewajibanya yang mengikuti mata kuliah Perbandingan agama. Selain itu
supaya artikel ini dapat sebagai pembuka dan penambah wawasan mahasiswa dalam
mata kuliah perbandingan agama deengan mempelajari sejarah dan perkembangan
mata kuliah yang sedang mereka jalani.
C. Manfaat
Sedangkang manfaat dari penulisan artikel
ini adalah untuk sebagai rujukan bagi mahasiswa yang sedang belajar di mata
kuliah perbandingan agama. Selain itu juga dapat memberikan pengetahuan tentang
ilmu perbandingan agama yang akan bermanfaat untuk pegangan dalam berkehidupan
mahasiswa di jurusan komunikasi dan penyiaran islam.
II.
PEMBAHASAN
Sejak timbulnya agama-agama didunia, maka
ahli-ahli pikir telah telah menilai agama mereka masing masing dalam hubunganya
dengan agama-agama lain. Banyaklah sudah teori dikemukakan orang untuk
menghubungkan satu agama dengan yang lainnya, teori tentang kodrat agama, hukum-hukum
yang mengenai pertumbuhan agama dan interpretasi tentang asal-usul agama.
Dr.Lehman dari universitas lund memberikan ringkasan yang sangat baik tentang
sejarah pertumbuhan ilmu agama ini. Ternyata
jauh sebelum Kristus sudah banyak sarjana serta ilmuwan agama yang memberikan
sketsa tentang sejarah berbagai agama dan menggambarkan adat-istiadat dan
bangsa-bangsa lain yang diketahui pada waktu itu,mereka itu adalah Herodotus
(481).Beroses (250 M).Cicero (106-8 SM) DAN Sallustius (86-34 SM) ( Mukti Ali :
2000).
Untuk
pertama kalinya orang menjumpai Dokumen studi tentang agama di kalangan yunani
Kuno.sejak abad ke-5 SM.di sini minat terhadap studi agama itu di utarakan
dengan dua cara pertama melalui catatan-catatan agama bukan yunani .cara ke dua
adalah kritik filosofis terhadap agama tradisional (Mircea Eliade :1959). Pengenalan awal tentang ilmu
perbandingan agama, setidaknya dapat dimulai dari kehidupan masyarakat Yunani
dan Romawi Kuno. Dimana religiusitas masyarakat Yunani dan Romawi Kuno memiliki
kesamaan, diantara karakteristik yang terdapat dalam kehidupan keberagamaannya,
bisa dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut.
A.
Zaman Yunani dan Romawi
Sekalipun secara politis
masyarakat Yunani Kuno dikuasai oleh bangsa Romawi Kuno, jika dilihat dari sisi
religiusitasnya, keduanya memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda.
Banyak tradisi dan isme keagamaan bangsa Yunanimasih dikembangkan atau diambil
alih oleh kekaisaran Romawi. Kalaupun ada perbedaan, hanyalah terletak pada
sebutan formal terhadap tradisi atau isme yang bersangkutan. Misalnya sebutan
dewa Zeus pada masyarakat Yunani Kuno, menunjukan pada dewa langit yang dipandang memiliki otoritas
tinggi di antara para dewa lainnya, di lingungan Romawi disebut dewa Yupiter,
dewa langit, yang memiliki ootoritas sebagai dewanya dewa ( Adeng Muchtar :
2000).
Karena religiusitas kedua
bangsa tersebut memiliki kesamaan, kajian-kajian agama dari para ahli pada masa
itu hampir memiliki kesamaan pula. Jika kedua masyarakat tersebut dikarakteristikkan tersimpul dua ciiri,
yaitu:
1.
Baik masyarakat Yunani Kuno atau Romawi kuno memiliki
kepercayaaan yang Politeistis.
2.
Konsepsi ketuhanan kkedua masyarakat tersebut adalah
anthropomorfis (M.Eliade : 1959).
Kembali pada sejarah terutama sekali setelah panaklukan Iskandar Agung (356-323 SM)
bahwa penulis-penulis Yunani berkesempatan untuk mendapatkan secara langsung
mengetahui tradisi keagamaan orang-orang Timur dan kemudian menguraikannnya.
Padda zaman pemerintahan Iskandar Agung, Berossus seorang pendeta Bel dari
Chaldea telah menerbitkan buku berjudul Babylonika. Seagai seorang sejarawan
dia tidak menolak pertimbangan-pertimbangan teoretis. Ia telah mengumpulkan
mite-mite bangsa Assiria serta menguraikan praktik-praktik keagamaan bangsa
Assiria yang kemungkinan besar dasar-dasar informasinya berasal dari
inkripsi-inkripsi ataupun dokumen-dokumen asli lainnya. Ia juga telah menlis
panjang lebar mengenai astrologi, sehingga karena sumbangannya itu mempercepat
berkembangnya ilmu ini (Zakiah Daradjat, dkk : 1996).
Dalam hal ini perlu disebutkan bahwa para
sarjana Asia juga mempeljari agama-agama Asia. Gambaran deskripsi agama-agama
India karya orang Cina telah dibuat oleh penziarah agama Budha seperti Fa-hien
(abad ke-5) dan Hiuen-Tsiang (abad ke-7) adalah merupaka karya yang pertama. Selang beberapa saat para sejarawan dan
geografis Bangsa Arab telah mulai mengadakan perjalanan dan mengembara ke benua
Asia untuk mengumpulkan data pembawaan geografis. Meskipun terutama minatnya
itu dalammasalah bentuk agama Budha, Brahma dan agama Mani, namun mereka
mengumpulkan data tentang agama suku-suku bangsa. Diantara para pengembara Arab
yang lebih terkenal adalah Tabari, Mas’udi, dan Al Biruni.
Barangkali saja sitematika perbandingan
sejarah agama yang mula-mula telah diperkenalkan oleh seorang sarjana Muslim
bernama Shahrastani dengan karyanya Al Milal wa al Nihal. Setelah
memperbandingkan semua agama-agama yang dikenal ( tidak termasuk agama-agama
suku), ia mengadakan empat kelompok tipologi. Yaitu Islam, Yahudiyang
dikelompokkan dalam literary religions, Zoroasterdan agama Mani yang
digolongkan quasi-literary religions, Budha dan Hindu yang dikelompokkan dalam
dalam philosophical and self willed religions. Shasarani adalah seorang sarjana
terdahulu yang menerapkan metode ilmiah dalam studi agama. Pada masa-masa
berikutnya orang Eropa yang pertama mengikuti langkah ini adalah Roger Bacon
(1214-1294). Bacon studi di oxford dan paris dan kemudian mengajar di
Universitas Oxford. Ssebagaimana Shasarani, bacon juga membuat suatu tipologi
yang bermaksud untuk mencankup seluruh agama-agama didunia. Yaitu, agama pagan
( mereka yang menyembah alam dan gejala alam) penyembah-penyembah berhala
(agama polities dan budha), agama bangsa mongol yang memadukan monoteisme
dengan penyembah api dan magi, agama islam , agama yahudi.
B. Masa
Barat
Masa Barat adalah barat dalam hal pengertiann kulltur dan agama. Pada
masa ini, pengertian kultur selalu dihubungkan dengan misi penjajahan,
sedangkan pengerian agama identik dengan pengetahuan , yakni agama Kristen.
Oleh karena itu, dalam kajian-kajian agama yang dilakukan orang barat, misi
penjajahan dan Kristen selalu bergandengan. Sekalipun demikian , tentu saja
cirri kajian agama yang dilakukan orang barat tidak selalu demikian. Pada
perkembangan studi agama berikutnya , terutama menjelang lahirnya science of
religion atau Religionswissenschaft, ilmu pengetahuan secara metodologis
menjadi semangat atau faktor utamanya.
Masa barat sebelum lahirnya ilmu perbandingan agama bisa dikategorikan
sebagai berikut:
1. Sinkritisme,
bahwa latar belakang masyarakatbarat dalam mengkaji agama didasarkan pada fakta
keagamaan yang ditemukan. Secara formal, Kristen menjadi agama orang barat,
tetapi pada kenyataannya ada pula yang masih mempraktikkann agama non Kristen.
Atas dasar ini orang-orang barat menelusuri asal-usul tradisi keagamaan tadi
dengan maksud untuk memisahkan tradisi keagamaan Kristen dengan non Kristen.
Dari hasil kajian ini terdapat beberapa teori, baik yang menyangkutmetode
maupun pendekatan tentang asal-usul agama.
2. Penemuan area baru,
hal ini berkaitan dengan penjajahan, aau karena menemukan lokasi baru . Di
lokasi baru ini,mereka melakukan penelitian keagamaan tntang isme-isme dan
tradisi keagamaan yang berkembang . dari hasil penelitian ini ditemmukan
agama-agama dan kepercayaan dan keperayaan baru yang sbelumnya belum diketahui.
3.
Kepentingan
missionari, hal ini berkaitan dengan kepentingan
agama Kristen untuk melakukan perluasan dan penyebaran agamanya (Farichin, ch,
1987 : 3-5)
Latar belakang kajian barat agama
ini melhirkan beberapa teori studi agama. Roger Bacon (1214-1294) misalnya,
orang inggris yang untuk lingkungan Eropa merupakan orang pertama yang ahli di
bidang perbandingan sejarah agama.
Berdasarkan pendekatan perbandingan sejarah ini , ia menemukan beberapa
tipologi agama yang ada di dunia .
Begitu
pula Loard Herbert (1583-1648) seorang ahli dibidang studi perbandingan , yang
berkesimpulan ahwa yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya
adalah agama. Oleh karena itu , tidak ada yang disebut Ateis. Ateis hanyalah
orang yang berkeberatan untuk mempercayai Tuhan . dia mencirikan beberapa aspek
disebut agama, yakni:
1. Ada
dzat yang suci;
2. Ada
unsure penyembahan;
3. Ada
tujuan kebijakan;
4. Ada
unsure tobat; dan
5. Ada
sanksi, yakni pahala dan siksa. ( Majalah wawasan, 1993:33)
Lim
aspek tersebut mirikp dengan yang dikemukakan oleh Roland Robertson (1988:56)
sebagai berikut :
1. Keyakinan
, yakin doktrin agama;
2. Praktek
agama, meliputi pemujaan dan ketaatan;
3. Pengalaman
agama;
4. Pengethuan
agama;dan
5. Konsekuensial.
C. Masa
Barat dan Kemajuan Ilmu Pengetahuan
Menjelang abad ke-19 atau pada saat-saat kemunculan ilmu Perbandingan
Agama terdapat semangat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
orientasi studi Agamapun mengalami perubahan. Studi agama-agama tidak lagi
bersifat Primordial atau hanya untuk kepentingan penyebaran Agamanya, tetapi
lebih didorong oleh semangat metodologis atau ilmiah, yakni berangkat atas
kepentingan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Munculah berbagai kajian agama
dengan metode dan pendekatan yang beragam pula, sesuai dengan kecenderungan
akademik para penstudi itu sendiri.
Oleh karena itu, pada masa kemajuan ilmu pengetahuan itu, kecenderungan
untuk mengkaji agama secara kritis dan ilmiah berkembang pesat. Agama
dijadikan sebagai pokok perbincangan,
baik dari arti praktis maupun teoritis. Berkaitan dengan ini ada beberapa
alasan yang mendukungnya, yaitu:
1. Kemajuan
pesat ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemikiran-pemikiran ilmiah mempengaruhi
dinamika beragama sehingga minat intelektual untuk mengkaji agama secara lebih
mendalam menjadi sangat tinggi.
2. Kecenderungan
untuk merekonstruksi agama dalam upaya mengembangkan pada semua urusan dunia.
3. Pengaruh-pengaruh
sosial,politik,dan peristiwa-peristiwa internasional yang mempengaruhi
agama-agama (James Hasting, ed. Tt., Vol.10,662)..
Salah seorang penstudi agama pada masa itu
adalah Friedrich Max Muller (1823-1900), seorang berkebangsaan Jerman yang pada
tahun 1867 memperkenalkan religionswissenchaft untuk melakukan penelitian
ilmiah terhadap agama dengan menggunakan pendekatan filologi. Menurut Mukti Ali,
scientificreligionswissenchaft dibawa oleh Muller pada masa elightement.
Sebagaimana para pemikir agama zaman ini, Muller menekankan “religi naturalis”,
yakni asal-usul alami dari agama akal dan berpendapat bahwa kebenaran dapat
ditemukan pada esensi yang paling universal dari agama dan bukan manifestasinya
yang khas.
Ilmu agama-agama (religionswissenchaft) atau
science of religions sebagai suatu disiplin yang mandiri, bertujuan untuk
menganalisis unsure-unsur yang sama dari agama-agama yang berbeda sehingga
dapat diketahui hokum-hukum perkembangannya, terutama untuk membatasi asal-usul
dan bentuk pertama dari agama itu. Dengan demikian, ilmu ini memberikan
tambahan yang berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini. Ilmu
perbandingan agama lahir sejak abad ke-19 dan dicetuskan hampi bersamaan dengan
ilmu bahasa, filologi.
Joachim Wach, sebagaimana di kutip Romdhon
tahung 1996 menyatakan bahwa perintis keilmiahan studi agama ini adallah Mark
Muller dengan bukunya Comparative Mhitology, kemudian Intriduction to the
science of religion. Pada masa permulaannya, yang menjadi objek favorit ilmu
ini adalah mite dan mengutamakan to understand other religion. Pada masa ini di
dominasi oleh wataknya yang mengutamakan objektivitas. Atak objektif ini
merupakan watak keilmuan.
Kajian-kajian agama yang dikembangkan ilmu
perbandingan agama saat ini tidak terlepas dari suasana historis dan cultural
tempat agama itu berkembang. Semangat pengetahuan, sebagaimana yang sudah
dijelaskan diatas sangat dominan dalam mengkaji agama. Berbeda dengan awal
masa-masa pengkajian agama sebelum muncul ilmu perbandingan agama, yang
menunjukan semangat keagamaan tertentu lebih dominan dalam mengkaji agama,
sehinggga mengabaikan kebenaran agama orang lain (Adeng Muchtar : 2000).
III.
PENUTUP
A. Penutup
Ilmu perbandingan Agama sejatinya sudah
ada sejak zaman yunani kuno dan Romawi kuno, hal ini menunjukkan bahwa manusia
sudah mengalami kemajuan berfikir dengan sanggup memilih keyakinan. Dengan
begitu manusia saat itu akan berfikir kembali dan menyakini suatu keyakinan
yang sesuai dengan kelompok-kelompoknya. Sehingga pada masa itu memunculkan
kepercayaan teerhadap dewa-dewa dan fenomena alam yang mereka anggap sebagai
suatu yang agung layaknya Tuhan. Memasuki abad ke -19 pemikiran ilmu
perbandingan agama modern telah memunculkan tokoh yang fenomenal dalam disiplin
ilmu ini, yaitu Mark Muller. Keyakinan setelah hilangnya kekuasaan Yunani dan
Romawi memunculkan agama-agama yang mengikuti kebudayaan dimana agama itu
muncul. Sehingga dengan begitu ilmu perbandingan agama juga dapat di jadikan
disiplin ilmu untuk mengetahui dan mempelajari sejarah-sejarah kemunculan
agama. Hal ini tentu sangat beranfaat bagi para kalangan akademisi saat ini
untuk mengembangkan keilmuannya dalam hal perbandingan agama untuk mengkaji
kebenaran agama-agama yang ada.
Daftar
pustaka
Adeng
Muchtar Ghazali.2000. Ilmu Perbandingan Agama. CV Pustaka Setia. Bandung
Joachim
Wach.1958. The Comparative Study of Religions, diedit oleh J. M. Kitagawa, Columbia
University Press, New York, edisi Indonesia diterbitkan oleh Rajawali,
Jakartaa, 1984
James
Hastings, tt. Encyclopaedia of Religions and Ethics, Vol.10, Scribner’s, New
York
Joachim
Wach.1958. The Comparative Study of Religions, diedit oleh J. M. Kitagawa,
Columbia University Press, New York, edisi Indonesia diterbitkan oleh Rajawali,
Jakartaa, 1984
Mircea
Eliade,the sacred and the profane .New york dan London .Harcourt,Brace dan
World inc.1959 hlm 219
Mircea
Eliade and Joseph M. Kitagawa,ed.1959. The History Of Religions, Essays in
Methodology, the University of Chicago Press, London.
Mukti
Ali.1969. Ilmu Perbandingan Agama, Yogyakarta: Yayasan Nida Yogyakarta
Roland
Robertson.1985. Sosiologi Agama. Rajawali. Jakarta
Zakiah
Daradjat,dkk.1996. Perbandingan Agama. Bumi Aksara. Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar